Jari Jemari Menjangkau Demokrasi

“Turunkan harga! Turunkan Nurdin! Bebaskan Chandra!”, kata yang sedemikian rupa terlontar secara mudah bak orator professional dihadapan wakil rakyat ataupun pihak yang diprotes. Kadang didengar atau tidak yang penting habis orasi dapat nasi. Padahal apa yang mereka tuju kadang tak didengar oleh mereka, mereka yang ada di balik pagar dan dilindungi aparat.
Efektifkah? Tentu saja tidak menurut pandangan penulis. Memang gembar-gembor pemerintah bahwa kita adalah Negara yang demokrasi selalu ada di sudut tatanan pemerintahan, tapi apakah terlaksana dengan baik? Lagi-lagi penulis berkata tidak. Percuma kita menyuarakan aspirasi bila hanya mengeluarkan keringat yang tak kunjung kering sedangkan perubahan tak kunjung ada. Demonstrasi yg meliputi kadang 30 orang pun berakhir 0 besar.
Tapi ingat, kita semua hidup di jaman globalisasi tentunya pola pikirpun berubah. Apa yang menjadi trend sudah seharusnya diamanatkan. Trend facebook,twitter dan antek-anteknya sudah dapat menjadi alternatif. Berapa teman anda? 100 ataupun 2000 atau juga 10000 followers. Gunakan itu! Satu jengkal huruf yang kita tulis tentu mereka akan tahu, apalagi kita menulis kritik sosial. Tentunya para elit politik maupun jajaran atas pemerintahan akan terjangkau oleh jari jemari kita. Bak efek domino tentunya kita menjadi orator utama yang menularkan suara kita ke teman di jejaring sosial, karena mungkin saja suara kita dibahas penting oleh mereka yang mungkin lebih memiliki banyak teman. Jadi beranilah bersuara melalui jejaring tanpa ada risi, karena kita menyuarakan hati. Bukan berorasi dan mengharapkan sesuap nasi pada akhirnya.

0 komentar:

Posting Komentar